Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Munawar Kementerian Agama Lapangan Banteng, Jakarta menerbitkan buku berisi renungan mendalam salah satu ulama pemikir yang juga adalah warga Ditjen Pendidikan Islam. Sebagai buku yang beirisi beragam renungan, buku ini menyajikan perjalanan yang mendalam, renungan yang bernas, dan fenomena yang dekat dalam keseharian.
Dalam pegantar buku ini, Kiai Rusdi menyebutkan bahwa rangkaian renungan yang terdapat dalam buku 99 Renungan Pagi, Butir Hikmah untuk Diri dan Negeri ini merupakan bentuk nazham –meski tidak memakai arudh --dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Arudh sendiri adalah adalah disiplin ilmu bahasa Arab yang mempelajari aturan, timbangan (wazan), serta keabsahan syair Arab. Ilmu ini berfungsi membedakan syair yang sahih dari yang rusak dan mengenali perubahan wazan.
Pendekatan baru dipakai Kiai Rusdi dengan pantun atau puisi dalam buku ini, yakni dengan akrostik. Menariknya, Kiai Rusdi membuatnya dalam dua versi bahasa, Arab dan Indonesia. Kiai Rusdi menjaga konsistensi dengan membuat terjemahan Bahasa Indonesia yang juga sama berima-nya dengan Bahasa Arab. Ia menuliskan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari tafsir rasa yang indah, memiliki daya gugah, dan pada akhirnya membuat pembaca tergerak. Dalam buku ini, Kiai Rusdi membuat empat ranah kepenulisan, yakni iman, ilmu, amal, dan umat sebagai pembahasan dalam buku ini.
Saat menerangkan tentang aksara, Kia Rusdi menulis puisi secara akrostik sebagaimana berikut:
Aksara adalah cahaya, membuka pintu ilmu dan peradaban,
Kitab, himpunan aksara menuntun umat menuju kemuliaan,
Syair dan tulisan menghiasi hati-pikiran dengan makna kehidupan,
Amanahnya: dijaga agar lestari bagi tiap generasi dan lintasan zaman,
Ruhnya adalah jembatan, menyatukan budaya dalam persaudaraan,
Aksara abadi, menorehkan jejak luhur di lembaran peradaban
Meski bukan merupakan hal baru, puisi dengan pendekatan akrostik merupakan sebuah terobosan. Dengan berkelakar, Kiai Rusdi menyatakan bahwa upaya akrostik ditempuhnya untuk membantu memori orang yang terbatas dan lebih menyukai hal-hal praktis. Dalam konteks ini, langkah akrostik ditempuhnya untuk meresapkan pesan dalam puisinya. Ia menyatakan, pendekatan ini sudah cukup lama ditempuhnya dan mengalami intensitas signifikan saat momentum Covid-19 melanda. Tidak dengan jelas mengaku, Kiai Rusdi menuturkan bahwa pendekatan akrostik yang ditempuhnya bisa jadi merupakan hal yang relatif baru. Dalam konteks puisi, langkah ini mengingatkan pada pandangan penyair Afrizal Malna dan Sutardji Calzoum Bachri yang “membebaskan” bahasa menemuan maknanya sendiri.
Kiai Rusdi melihat pentingnya semua pihak merenungkan makna strategis literasi. Baginya, literasi bukan sekadar membaca huruf, melainkan membaca kehidupan. Dari beragam lanskap ilmu, lahir cahaya pemikiran; dari warisan leluhur terpancar kebijaksanaan; dari adab lahir kemuliaan; dan dari ilmu lahir cahaya yang menerangi segala penjuru negeri dan peradaban (hal. 82).
Jka didalami, bagian yang juga “penting” dari seorang Kiai Rusdi adalah kejenakaan dan humornya. Dari berbagai testimoni yang ada di bagian akhir buku, terlihat bahwa Kiai Rusdi adalah sosok yang mampu memberi kesegaran dalam memberi penjelasan. Ia mengemasnya dalam kejenakaan yang kerap dilontarkannya. Sosok yang Njawani tapi kental Betawi ini kerap menggunakan humor sebagai sarana komunikasinya. Dengan humor, Kiai Rusdi bukan hanya melihat berbagai hal dari sisi “asyik-asyik aje” (hal. 273), tapi menjadikannya sebagai sarana untuk meyampaikan kedalaman pemahaman dakwah yang dilakoninya. Tak pelak, dengan pendekatan seperti ini, Kiai Rusdi mampu menjadikan situasi yang semestinya tegang menjadi cair dengan tetap menjaga pesan dasarnya, serta mampu diterima berbagai kalangan. Ia bahkan dianggap sebagai rumah kedua (hal. 269), selalu mendampingi kesusahan sahabat dan orang dekatnya.
Jenaka dan humoris adalah predikat yag melekat dalam diri Kiai Rusdi, meski tidak terlihat dalam lintasan buku ini. Jika ditelaah, penggunaan humor dalam dakwah Nahdlatul Ulama (NU) sebagaimana yang dipraktikkan Kiai Rusdi dapat ditelusuri ke prinsip dasar Islam yang menekankan keseimbangan antara serius dan ringan. Dalam konteks NU, humor menjadi alat untuk "menjinakkan" kebenaran yang keras agar lebih mudah dicerna oleh masyarakat awam.
Di Indonesia, di mana budaya gotong-royong dan kebersamaan begitu kuat, dakwah yang kaku dan dogmatis justru bisa menjauhkan umat dari esensi agama. Humor, di sisi lain, berfungsi sebagai jembatan dengan upaya meruntuhkan tembok ego, mengurangi resistensi, dan membuka pintu hati. Seperti kata filsuf Barat, Friedrich Nietzsche, yang menyatakan bahwa "humor adalah cara manusia menghadapi absurditas hidup," kiai NU menggunakan humor untuk mengingatkan kita bahwa agama bukanlah beban, melainkan sumber kegembiraan.
Humor, sebagai elemen tak terpisahkan dari pengalaman manusia, sering kali dianggap sebagai hal sepele. Ia dianggap sekadar tawa yang muncul dari lelucon ringan. Namun demikian, secara filosofis, humor menyimpan makna mendalam yang menyentuh esensi kehidupan itu sendiri (Seno Gumira Adjidarma, Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor, 2012). Ia bukan hanya respons emosional, melainkan alat untuk menavigasi absurditas eksistensi, membangun ikatan sosial, dan mempertahankan keseimbangan jiwa.
Pendekatan ini mencerminkan filosofi tasawuf yang mewarnai NU, di mana kehidupan spiritual tidak terpisah dari realitas sehari-hari. Humor menjadi manifestasi dari konsep "al-hikmah" (kebijaksanaan) dalam Al-Qur'an, yang mengajarkan untuk menyampaikan dakwah dengan cara yang lembut dan menarik. Di era digital saat ini, di mana informasi banjir tapi pemahaman sering dangkal, humor kiai NU mengajarkan kita tentang pentingnya empati. Ia bukan saja itikad hiburan, namun juga berupa kritik sosial yang halus. Hal ini sama halnya seperti ketika Gus Dur bercanda tentang politik untuk menyindir korupsi tanpa menimbulkan permusuhan. Filosofi ini mengingatkan bahwa dakwah sejati adalah yang menyatukan, bukan memecah belah
Melihat Kiai Rusdi dengan karyanya ini menjadi semacam aktivitas “membaca” kitab kuning yang penuh dengan matan tapi tidak disertai “syarah” yang memadai. Syarah yang dimaksud menjadi ranah yang sepenuhnya diserahkan kepada sidang pembaca. Saat bicara tentang doa (hal. 79), misalnya, Kiai Rusdi memberi terang bahwa doa seseorang yang belum terkabul bukan berarti doa tersebut ditolak. Itu adalah undangan agar seseorang untuk lebih lama meminta kepada Allah. Sebaliknya, saat doa diijabah dengan segera, hal tersebut bukan berarti akhir. Allah ingin menguji apakah cinta hambaNya tetap terjaga selepas doa dikabulkan.
Jika tentang doa Kiai Rusdi memberi “matan” yang dapat membantu bacaan buku ini, maka hal demikia tidak didapati saat dia bicara tentang renungan tentang Kemuliaan Hati Lebih Kekal dari Kemuliaan Dunia (hal. 84) dan Penyakit Hati dan Penawarnya (hal. 99). Ia terkesan membiarkan makna bahagia terdefiniskan dalam konsep pemahaman pembacanya.
Buku dari warga Direktorat Jenderal Pendidikan Islam ini adalah semacam ajakan untuk tetap menjaga dan mengembangkan literasi. Sebagai bagian dari institusi yang lekat berhubungan denga dunia pendidikan Islam, Kiai Rusdi mengajak kita semua untuk “menyisihkan” waktu menulis, membaca, dan merenungkan apa yang terjadi di sekitar.
Pada akhirnya, renungan ini mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali cara kita beragama. Di tengah bayang-bayang ekstremisme yang mengatasnamakan kebenaran mutlak dan manafikan pihak lain, pendekatan NU ini menjadi obor harapan, bahwa Islam bisa tetap relevan dan manusiawi. Mungkin, dalam upaya Kiai Rusdi dengan pendekatan humanis dan jenaka itulah terletak rahasia keabadian syiar, karena hati yang gembira lebih mudah menerima cahaya ilahi.